Senin, 04 Januari 2010

HANYA SATU NYAWA

Generasi Salaf adalah generasi yang luar biasa. Dunia ini tak akan pernah lagi merasakan dan menyaksikan sebuah generasi seperti itu. Hanya sekali saja. Benar, hanya sekali saja ia ditakdirkan menjadi panggung kehidupan sekaligus saksi sejarah untuk sebuah generasi bernama al-Salaf al-Shaleh itu. Sebagaimana ungkapan para ulama, generasi ini dengan manhaj yang menjadi jalan serta pegangan hidupnya telah menyatukan 3 sifat yang tak mungkin terpisahkan satu dengan lainnya. Manhaj Salaf itu a’lam, ahkam dan aslam.

Manhaj Salaf itu a’lam atau paling sesuai dan penuh dengan ilmu, karena seluruh ilmu Islam berasal dari mata air Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mengalir melalui anak-anak sungai para Salaf. Jangan pernah mengatakan engkau lebih tahu dari mereka tentang agama ini.

Manhaj Salaf itu ahkam atau paling penuh hikmah, karena hikmah hanya akan lahir dan mengalir dari mata air ilmu yang shahih. Hikmah yang sesungguhnya adalah hikmah yang mengalir dari al-Qur’an dan al-Sunnah.

Manhaj Salaf itu aslam atau paling menyelamatkan, karena mungkinkah seorang selamat di dunia dan akhirat jika ia tidak meniti jalan kebenaran? Dan mungkinkah kita meniti jalan kebenaran jika kita tidak menapaki jejak generasi Salaf?

Itu tadi hanya pengantar. Hanya sekedar mengingatkan. Dan sekedar memberikan alas an kenapa saya tak henti-hentinya mengagumi Generasi Salaf dan manhaj mereka. Dalam tulisan singkat ini, saya ingin mengajak Anda untuk merenungkan kisah seorang ulama salaf yang bernama ‘Abdullah ibn Mutharrif rahimahullah. Kisahnya sangat luar biasa. Kisahnya menunjukkan kepada kita bahwa jika hatimu dipenuhi oleh cahaya al-Qur’an dan Sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , maka jawaban-jawabanmu adalah cahaya!

Suatu ketika, dua orang Khawarij datang menemui ‘Abdullah ibn Mutharrif. Mereka tentu saja membawa misi sangat penting. Mereka ingin mengajak ‘Abdullah untuk “hijrah” mengikuti jalan mereka, Kaum Khawarij. Tidak banyak diskusi. Bahkan nyaris tidak ada debat di majlis itu. ‘Abdullah ibn Mutharrif rahimahullah hanya mengatakan kepada mereka-dan renungkanlah kata-kata penuh cahaya ini-:

“Wahai saudara! Seandainya aku memiliki 2 nyawa, maka akan aku izinkan salah satu dari kedua nyawaku itu untuk mengikuti jalan kalian. Jika ternyata jalan kalian adalah jalan yang benar, maka aku akan mengikutkan satu nyawaku lagi dengan kalian. Namun jika ternyata jalan kalian adalah sesat, maka setidaknya aku masih memiliki satu nyawa dan biarlah nyawaku yang pertama itu binasa dan sesat bersama kalian…Tetapi sayang sekali, aku hanya memiliki satu nyawa, dan aku tak mungkin mempertaruhkan nyawa yang hanya satu-satunya ini!

Dan 2 pria Khawarij itu tak punya kata-kata lagi untuk ‘Abdullah ibn Mutharrif rahimahullah. Mereka pun pergi.

Sahabat…

Bukankah itu adalah kata-kata yang luar biasa?! Dan betapa kita sungguh-sungguh membutuhkan jawaban seperti ini dalam setiap episode dan kisah hidup kita…

Jika suatu ketika, sebuah syubhat pemikiran tiba-tiba saja hinggap di hati kita, mengajak bahkan menarik-narik kita untuk meninggalkan jalan ini, jalan al-Salaf al-Shaleh, maka katakanlah kepada pembawa syubhat itu: “Sayang sekali, aku hanya mempunyai satu nyawa! Tak akan kubiarkan satu-satunya nyawaku ini larut dalam tamasya pemikiranmu yang tak berujung pangkal itu!”

Jika suatu ketika, sebuah bisikan syahwat tiba-tiba menggoda dan mengelus-elus benteng keshalehan kita, maka katakanlah kepada bisikan keji itu: “Maaf-maaf saja…aku hanya mempunyai satu nyawa! Tidak ada yang lain. Maka silahkan kau pergi dan jangan mengelus-elusku lagi!”

Jika suatu ketika, jiwa ini tergoda untuk malas dan meninggalkan jalan dakwah, jalan tarbiyah, dan jalan keshalehan, maka ingatlah jiwa ini: “Duhai jiwaku…nyawaku hanya satu. Bantulah aku untuk tetap semangat menapaki tangga-tangga penghambaan ini, hingga kelak kita menikmati rehat yang sesungguhnya di dalam Jannah.”

Subhanallah, betapa jawaban ‘Abdullah ibn Mutharrif itu dapat menjadi inspirasi luar biasa untuk kita dalam menerabas semua kesia-siaan hidup. Ya, karena memang hanya ada satu nyawa. Tidak dua. Tidak pula seribu. Hanya satu nyawa.

Taqabbalallahu minna wa minkum!

Abul Miqdad al-Madany



IKHLAS ITU PROSES

Untuk kesekian kalinya, saya membaca ungkapan yang diriwayatkan dari al-Imam al-Daraquthny rahimahuLlah, seorang ulama hadits besar yang salah satu karyanya, al-‘Ilal, menjadi rujukan penting dalam ilmu hadits. Ungkapan itu bagi saya sangat luar biasa. Terutama karena ia menggambarkan sebuah kondisi yang biasa kita alami. Beliau mengatakan:
“Dahulu, kami menuntut ilmu ini bukan karena Allah. Namun ternyata ilmu ini enggan kecuali jika ia dituntut karena Allah semata.”
Boleh jadi, kita tak pernah menyangka. Seorang imam besar seperti al-Daraquthny ternyata di awal perjalanannya menuntut ilmu agama mengakui bahwa ia pun didera oleh ketidakikhlasan. Setiap saat selalu ada bisikan jiwa bahwa engkau belajar agar kelak engkau disebut sebagai “al-Imam”, “al-Muhaddits”, “al-Faqih”, “al-‘Allamah”, dan sebutan-sebutan penghormatan lainnya.
Di saat-saat seperti itu, biasanya terjadilah sebuah tumbukan keras: antara bisikan ketidakikhlasan dengan tuntutan ilmu yang selama ini kita pelajari; bahwa riya’ akan merusak amal. Sebuah pertarungan sengit terjadi dalam diri. Antara keinginan bahwa kelak setelah tiba di level tertentu dari ilmu ini kita akan dimuliakan, dengan kesadaran bahwa pamrih semacam ini keliru dalam menuntut ilmu agama. Pada titik ini, banyak orang yang tidak kuat. Tidak sedikit yang rubuh dan menyerah. Segera saja ia mengatakan: “Ah, daripada tidak ikhlas, lebih baik saya berhenti saja menuntut ilmu!” Yang lain berujar: “Apa gunanya belajar al-Qur’an, Hadits, dan Fiqih jika hati ini tidak ikhlas?!”
Demikianlah. Meskipun kekalahan itu seringkali juga merupakan pembenaran terhadap kemalasan kita. Tapi cobalah baca kembali ungkapan al-Imam al-Daraquthny itu: “…Namun ternyata ilmu ini enggan kecuali jika ia dituntut karena Allah semata.” Renungkanlah kira-kira kapan beliau sampai pada titik kesimpulan ini? Sehari. Seminggu. Sebulan. Setahun. Tidak! Kesimpulan ini pasti beliau pahami setelah bertahun-tahun menjalani proses menuntut ilmu, sembari menghadapi pertarungan demi pertarungan menghadapi ketidakikhlasan jiwa dan hati…
Meski beliau merasa selalu ada interest pribadi dalam menuntut ilmu, tapi beliau tidak kalah dan berhenti. Dan begitulah…sentuhan-sentuhan ayat-ayat Allah, sabda-sabda Rasulullah, dan atsar para sahabat menempa jiwanya. Tahun demi tahun. Ia biarkan kalbunya disirami oleh derasnya ilmu, meski tak jarang ada godaan untuk berhenti dengan alasan ketidakikhlasan. Hingga akhirnya ia sampai ke puncak impian. Meraih kemuliaan sebagai seorang ulama, dan mereguk manisnya keikhlasan.
Jadi bila suatu ketika nanti, engkau dibuat ragu untuk menapaki jalan ilmu ini…Engkau digoda untuk mempertanyakan keikhlasanmu…Engkau digoda untuk tidak melanjutkan perjalanan ilmu ini karena ketidakikhlasanmu…Maka jangan berpaling pada godaan itu! Cukup katakan padanya: “Benar saat ini aku belum sepenuhnya ikhlas, namun Allah pasti akan membantuku menjadi hamba yang ikhlas jika aku bersungguh-sungguh melanjutkan perjalanan ini!”
Atau cukup sampaikan padanya apa yang dikatakan oleh al-Imam al-Daraquthny itu. Karena menjadi ikhlas itu adalah proses. (Mks, 05/01/10)

Abul Miqdad al-Madany

Senin, 12 Januari 2009

KE AL-QUDS AKU AKAN KEMBALI!

KE AL-QUDS AKU AKAN KEMBALI!

Pesan dari Jiwa untuk Para Mujahid yang Akan Berangkat ke Bumi Palestina

Saudara-saudaraku, Para Mujahid!

Jika hari ini engkau telah memancangkan tekad untuk berangkat ke Bumi al-Quds, maka…

  1. Mulai hari ini, tekunlah meluruskan Tauhidmu, memperbaiki keikhlasan niatmu, dan membersihkan tautan-tautan hidupmu pada selain Allah. Tidak ada lagi jimat, tidak ada lagi istighatsah, tabarruk kepada selain Allah, tidak ada lagi kesyirikan apa pun dalam hidupmu. Keyakinan seperti inilah yang akan menjadi sumber kekuatan paling dahsyatmu untuk kembali ke Bumi al-Quds…karena engkau bersandar kepada satu-satunya Dzat yang Mahakuat, yaitu Allah Azza wa Jalla.
  2. Mulai hari ini, sematkanlah segala kemahasempurnaan dan kemahatinggian kepada setiap nama dan sifat Allah Ta’ala, baik yang engkau temukan dalam al-Qur’an maupun sunnah Nabi-Nya…Jangan lagi engkau takwilkan atau selewengkan maknanya, karena mengingat seluruh keMahasempurnaan-Nya akan memberikanmu kekuatan yang tak pernah engkau duga sebelumnya, saat engkau menjejakkan kakimu di Tanah al-Quds…

Ingatlah, saudaraku, melalui jalan ini, kita semua berharap dapat menyaksikan langsung Wajah Allah Azza wa Jalla yang selama ini kita sembah di dalam Surga-Nya…Sungguh, aku tak sabar menanti hari itu…

  1. Mulai hari ini, periksalah kembali sunnah-sunnah Nabimu yang selama ini engkau abaikan: sunnahnya dalam aqidah, dalam ibadah, dalam muamalah dan akhlaq…Tidak! Perjuangan ini adalah untuk menegakkan Kalimah Allah. Dan itu tak mungkin terwujud dengan mengabaikan dan meremehkan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Bukankah melalui jalan jihad ini engkau ingin berjumpa dengan Sang Nabi di dalam surga?
  2. Mulai hari ini, bukalah kembali lembar-lembar sejarah para al-Salaf al-Shaleh rahimahumullah. Karena merekalah para mujahid sejati. Merekalah para tentara Allah yang akan terus menjadi teladan dan qudwah bagi seluruh mujahid hingga akhir zaman. Pelajari kembali seluruh sisi kehidupan mereka, lalu teladani dalam hidupmu. Catatlah dalam hati dan pikiranmu, bahwa perjalananmu ke Bumi al-Quds akan berakhir dengan perjumpaan bersama mereka di Surga...Karena itu, jadilah seorang salafy (pengikut salaf) sejati yang meneladani mereka dalam seluruh aspek kehidupan, termasuk jihad dan kepedulian terhadap sesama kaum muslimin di mana pun mereka berada!
  3. Karena itu semua, maka cita-cita mulia untuk kembali ke al-Quds jangan membuatmu tinggal diam berkhayal dan berangan-angan: “Kapan aku akan berangkat?”, lalu meninggalkan majelis-majelis ilmu dan tarbiyah!

Tidak, saudaraku…Jalan ini adalah jalan orang-orang yang bersabar, bukan jalan orang-orang yang selalu tergesa-gesa. Karena itu, cita-cita mulia ini harus semakin memompa semangatmu untuk terus belajar, terus bertarbiyah, terus menghadiri majelis-majelis ilmu, dan terus bertafaqquh fid-din…hingga akhirnya tiba hari itu, dimana Allah memilihmu untuk berangkat bersama kafilah para mujahid…ke sana, ke bumi Allah bernama AL-QUDS, insya Allah!

  1. Mulai hari ini, tekunlah beribadah, menangislah dalam shalatmu, menangislah dalam doamu, menangislah dalam tilawahmu, menangislah karena takut pada Allah…Banyaklah menangis pada-Nya, karena itu akan memberi kita kekuatan luar biasa untuk kembali ke Bumi al-Quds! Itu akan memberimu energi dahsyat untuk mengusir penjajah Zionis satu per satu keluar dari Tanah Suci kita itu…Ketahuilah, tanpa tangisan yang ikhlas dan penuh ta’zhim pada-Nya, engkau tak akan peroleh kekuatan dahsyat itu, meski seluruh dunia memberikan bantuan persenjataan paling canggih kepadamu…

Kiranya itu sajalah dulu pesanku untuk diriku sendiri dan untuk para mujahid perindu syahid di mana pun mereka berada. Jangan pernah padam semangat jihad dalam dadamu, meski kelak Allah menakdirkanmu meninggalkan dunia fana ini dari atas pembaringanmu di sisi anak dan istrimu. Jangan pernah padam, saudaraku!

Semoga kelak kita berjumpa di Bumi al-Quds, sujud bersama di sana menghadap Allah, atau kalau tidak sempat, semoga kita bertemu di dalam Jannah-Nya…amin, amin, amin…

Makassar, 15 Muharram 1430 H

Akhukum al-Faqir al-Haqir,

Abul Miqdad al-Madany

www.abul-miqdad.blogspot.com

DR. NAZAR RAYYAN; PENUNTUT ILMU DAN MUJAHID YANG SAYA KENAL

DR. NAZAR RAYYAN; PENUNTUT ILMU DAN MUJAHID YANG SAYA KENAL

Didiktekan langsung oleh Syekh DR. ‘Abdurrahman al-Barrak (Ulama besar Saudi Arabia)



Segala puji milik Allah, shalawat dan salam untuk Nabi kita Muhammad, beserta keluarga dan para sahabatnya. Amma ba’du:

Maka saya memohon kepada Allah agar mengampuni Abu Bilal (DR. Nazir Rayyan-penj), menempatkannya di kelapangan surga-Nya, dan memberikan balasan terbaik untuk ibundanya, anak-anaknya, serta seluruh keluarga, saudara dan sahabatnya yang masih hidup di medan jihad…

Saya telah mengenal DR. Nazar ketika ia masih menjadi mahasiswa di Fakultas Ushuluddin di Riyadh. Ia adalah salah satu mahasiswa terbaik dalam menuntut dan mencari ilmu, ditambah lagi dengan adab dan sejarah hidupnya yang baik. Beliau kemudian melanjutkan perjalanan ilmiahnya hingga mencapai gelar doktor dalam ilmu-ilmu syar’i.

Namun disamping perjalanan ilmiahnya itu, ia sangat berkeinginan untuk menjadi seorang prajurit dalam jihad melawan musuh-musuh Allah, kaum Yahudi yang zhalim dan menduduki tanah al-Quds dan Palestina negeri Islam. Maka ia dan keluarganya pun termasuk orang yang menjadikan jihad melawan kaum Yahudi sebagai obsesi dan cita-cita terpenting mereka, yang menjadi titik tolak untuk berjihad menegakkan kalimat Allah.
Ia telah mempersembahkan salah seorang putranya yang kemudian terbunuh di tangan orang-orang Yahudi sebagai seorang mujahid. Dan Abu Bilal tak pernah berhenti menjalani jalan ini hingga akhirnya ia menjadi salah seorang pemimpin mujahidin yang selalu bersabar menghadapi ujian, (khususnya) apa yang terjadi akibat blokade Yahudi terhadap Gaza dua tahun terakhir ini.
Namun, meski ujian yang mereka hadapi demikian besar-baik berupa blokade dan penghancuran-, mereka tetaplah orang-orang yang istimewa dengan keteguhan dan ketegaran mereka. Duhai, Maha suci Allah yang telah meneguhkan jiwa-jiwa mereka di hadapan peperangan dan musibah yang sangat berat ini.

Dan salah satu peristiwa “menarik” dan menakjubkan-yang tentu saja terjadi dengan takdir Allah-, bahwa beliau sempat menelpon saya di penghujung hari tepat 24 jam sebelum peristiwa yang menimpanya. Pembicaraan dengannya berlangsung lebih dari seperempat jam. Ia menggambarkan kepada saya beban yang dialami oleh penduduk Gaza; kelaparan dan ketakutan. Sampai ia mengatakan kepada saya: “Sungguh sekarang ini sedang terasa rumah dan bumi sedang bergetar!” (Nampaknya saat beliau menelpon, sedang terjadi bombardir terhadap wilayah Gaza-penj). Tapi saya sungguh takjub dari cara pembicaraannya di telpon, karena meski mereka sedang dalam kondisi demikian, namun karena keteguhannya peristiwa itu sama sekali tidak mempengaruhi nada bicaranya. Maka saya pun mendoakannya dan juga untuk saudara-saudaranya penduduk Gaza agar Allah memberikan tambahan kesabaran dan keteguhan kepada mereka, agar Ia segera menyingkapkan tabir cobaan ini dari mereka.
Hingga akhirnya, sampai kepada kami berita gempuran bom Yahudi yang menimpa rumahnya, yang kemudian mengakibatknya kematiannya dan kematian sebagian besar keluarganya. Kami memohon kepada Allah agar mengantarkan mereka ke tempat para Syuhada’, meliputi mereka semua dengan rahmat dan ampunan-Nya, melipur lara kesedihan ibundanya dengan putra-putranya yang masih hidup, dan menjadikan mereka sebagai keturunan yang shalih sepeninggalnya.
Sungguh, peristiwa ini menimbulkan kesedihan yang sangat dalam dalam diri saya. Apalagi belum lama saya baru saja berbicara dengannya. Duhai, betapa dekatnya jarak antara dunia dan akhirat.
Kita memohon kepada Allah agar mengaruniakan kehidupan yang thayyibah untuk kita semua, meneguhkan kita di atas agama-Nya, menyingkapkan musibah ini dari penduduk Gaza dan dari seluruh kaum yang terzhalimi dan mustadh’afin dari kaum muslimin.

Dan semoga Allah mencurahkan shalawat dan salam untuk Nabi kita Muhammad, beserta keluarga dan para sahabatnya.

(Judul asli: al-Duktur Nazar Rayyan, ‘Araftuhu Thaliban wa ‘Araftuhu Mujahidan, dari situs www.almuslim.net , situs resmi Syekh Prof.Dr. Nashir al-‘Umar)

Diterjemahkan oleh Abul Miqdad al-Madany

Jumat, 17 Oktober 2008

SAJAK KERINDUAN

Muhammad Ihsan Zainuddin


: jiwaku, karena ia tlah letih pada dunia

Teringat pada Sang Nabi, hari ini

Bila engkau syahadah, semburat darahmu adalah kemuliaan

Titik-titik hitammu akan terampuni seketika

Bidadari bermata jeli tersenyum di pintu surga

menyambutmu dalam rindu sepenuh zaman

Pada Allah, syafaatmu akan menebarkan ampunan

pada orang-orang terkasihmu

Dan di sana,

Segala kepenatanmu kan usai seketika, tiada jejak

Jika kaki lemah ini menjejak kali pertama pada jannah

tiada lagi sedih dan hidup yang lelah

benar-benar tiada, sungguh-sungguh usai

dan aku merindukannya…

Duh, dunia ini melelahkanku

Tuhan, anugrahkan kesabaran tak kunjung selesai

pada jiwa yang letih ini

izinkan ia untuk tetap sujud hingga usai masanya

hanya padaMu, dalam samudra tanpa batas nikmatMu

dan kelak, jika titikku tiba di penghujung

karuniakan syahadah itu padaku.

Duh, jangan hijabi aku untuk tidur panjang di pelatarannya.

Jangan, Tuhan…

Cipinang Muara, 24 Desember 2006

SAJAK CINTA PADA NABI

Sajak Cinta Untuk Sang Nabi

Muhammad Ihsan Zainuddin


Aku membuka lembar demi lembar sejarah

Tak terhitung jumlah lembar itu

Tapi kisah tentang Tuan-lah yang paling semerbak

Aku letih menatap huruf-huruf tua sejarah

Tapi ia sirna seketika kutatap keagungan Tuan

Tuan, engkau sungguh membuat kami rindu redam

Pesonamu menghunjam cinta tak terkira

Kini, dan hingga nanti

Aku akan berdiri di sini

Berbaris berjejal bersama kafilah para pecintamu

“Kupinta menyertaimu di surga,” ucap kami

Persis ucap Sang Al-Aslamy suatu ketika di hadapmu

Tapi maafkan kami, Tuan

Kami pecinta yang payah

Seringkali kami lemah tuk buktikan cinta itu

Hanya hunjamannya sudah tak terkirakan

Kerinduannya adalah kobar nyala api

Terlalu panas hingga membakar jiwa

Bakarannya begitu nikmat, hingga kami terbuai

Tuan, kelak jika kita berjumpa

Pintakan syafaat untuk pecinta yang letih ini

Ajak kami melihat Wajah Rabb yang utusmu dengan cinta.


Cipinang Muara, 27 Maret 2006


Sajak Cinta untuk Sang Nabi 2


Namamu adalah Muhammad. Sungguh manis

Setiap hurufnya bak penaka-penaka mungil

Menyatu membentuk cahaya

Tembok-tembok dunia pun tak kuasa

Selain menyambutnya, biarkannya mengisi relung-relungnya

Namamu adalah Muhammad. Sungguh manis

Setiap hurufnya adalah mutiara

Angin keji dari timur dan barat tak jua kuasa

Melainkan mutiara itu semakin manis saja

Bukankah Muhammad adalah namamu?

Duh, sungguh manis untaian huruf itu, Tuan...


Cipinang Muara, 15 Mei 2006

Selasa, 07 Oktober 2008

TENTUKANLAH TUJUAN HIDUPMU !

Bacalah kenyataan yang menyedihkan ini. Sebenarnya ia adalah makhluq yang beruntung. Tidak semua makhluq ciptaan Allah seperti ia. Penciptaannya sempurna. Fisiknya dilengkapi dengan akal untuk berfikir. Ia juga dikaruniakan sebuah hati dan jiwa. Hidupnya dilengkapi dan disempurnakan dengan ditundukkannya makhluq lain untuk berkhidmat padanya. Yah, ia sebenarnya ditakdirkan menjadi makhluq yang paling terhormat. Dan tidak hanya itu, setelah Allah memberikannya fithrah yang lurus, Allah Ta'ala bahkan mendukungnya dengan kedatangan para Nabi dan Rasul disetiap zaman. Dan mereka tidak datang sendiri. Di genggaman mereka ada petunjuk Tuhan. Apalagi jika engkau berbicara tentang sayyid mereka, Muhammad Rasulullah saw. Duh, risalah yang dibawanya tidak tertandingi. Namun –sekali lagi, bacalah kenyataan yang menyedihkan ini-, makhluq yang satu ini masih saja terombang-ambing oleh dirinya sendiri. Ia seperti tak pernah mengerti benar mengapa ia hidup. Dan engkau pasti sudah paham siapa makhluq itu. Dia adalah kita. Aku dan kau.

* * *

Sahabatku…
Di tengah kegalauan kita ini, Aku ingin mengajakmu bersama membaca torehan tinta Ibn Qudamah Al Maqdisy yang menggambarkan tentang kita berikut ini…Ia mengatakan :
"Sesungguhnya pernah terbetik dalam pikiranku untuk mempermisalkan dunia dan para penghuninya dengan para penumpang di sebuah bahtera yang terdampar di sebuah pulau disebabkan angin lautan yang sangat kencang menghantam mereka. Pulau itu sendiri adalah tambang segala permata dan batuan mulia ; yaqut, zamrud, zabarjah, mutiara, intan dan emas serta bebatuan indah lainnya dan tanaman yang beraroma harum semerbak.
Di pulau itu juga terdapat sungai-sungai yang mengalir dan aneka taman. Akan tetapi di sana juga ada sebuah wilayah yang hanya menjadi kekuasaan seorang raja. Tempat itu dikelilingi dan dibatasi oleh pagar dan tembok yang melindungi perbendaharaan kekayaan sang raja beserta semua keluarga dan budak-budaknya.
Maka tatkala para penumpang bahtera itu turun di pulau itu, kepada mereka diumumkan : "Kalian akan tinggal di pulau ini hanya dalam sehari semalam. Karenanya gunakanlah waktu kalian yang amat singkat ini untuk sedapat-dapatnya mengumpulkan mutiara-mutiara berharga yang bertebaran…".

Orang-orang yang memiliki cita-cita tinggi dan tekad yang kuat pun segera memilih dan mengambil mutiara-mutiara berharga yang dimaksud untuk kemudian menyimpannya dalam lemari-lemari penyimpanan mereka dalam bahtera itu. Mereka bersungguh-sungguh dan serius dalam bekerja. Bila keletihan menyerang mereka, mereka akan segera mengingat betapa berharganya nilai mutiara-mutiara yang telah mereka dapatkan. Mereka juga segera menguatkan hati mereka dengan mengingat betapa singkatnya waktu yang disediakan buat mereka untuk tinggal di pulau itu, dan bahwa mereka sesaat lagi akan segera pergi meninggalkannya…Mereka sadar betul bahwa saat waktu untuk pergi itu tiba, tidak ada lagi kesempatan untuk menambah perbekalan mereka.
Bila mereka mengingat itu semua, mereka tidak ingin lagi beristirahat. Mereka meninggalkan segala kesenangan, lalu melanjutkan kesungguhan dan pekerjaan mereka.
Bila rasa kantuk mulai menyerang mereka, mereka kembali mengingat itu semua hingga kenikmatan tidur itupun sirna…Keletihannya pergi…

Adapula sekelompok penumpang yang lain, mereka mengumpulkan beberapa mutiara saja lalu beristirahat dan tidur bila waktu rehat dan tidur tiba.

Sedangkan penumpang yang lainnya sama sekali tidak menyentuh mutiara-mutiara itu sedikitpun. Mereka lebih memilih untuk tidur, bersenang-senang dan berleha-leha. Di antara mereka ada yang memilih membangun rumah, istana dan bangunan yang megah. Adapula yang sekedarnya saja mengumpukan bejana dan batuan tak bernilai. Adapula yang bermain-main dan mendengarkan perkataan dusta. Mereka benar-benar hanya menyibukkan diri mereka dengan menikmati kelezatan-kelezatan, mendengarkan hikayat-hikayat serta alunan musik yang membuai. Bagi mereka,"Biji padi yang dapat dituai hari ini lebih baik daripada permata yang dijanjikan kelak."
Jenis penumpang ketiga ini mulai melirik wilayah kekuasaan sang raja. Mereka mengitarinya. Namun tidak ada pintu yang mengantarkan mereka masuk ke sana. Mereka pun mulai membuat clah dan masuk secara paksa ke dalam wilayah itu. Mereka membuka khazanah kekayaan sang raja, menghancurkan pintu-pintunya, merampas apa saja yang ada di situ dan berbuat tidak senonoh terhadap budak dan anak-anak sang raja. Mereka mengira,"Kami tidak punya tempat tinggal lain selain tempat ini."
Dan mereka terus saja berbuat seperti itu hingga masa sehari semalam itu habis…

Dan lonceng tanda keberangkatanpun dibunyikan. Panggilan untuk para penumpang pun dikumandangkan agar mereka bergegas. Bergegas menaiki bahtera lalu pergi meninggalkan pulau itu…

Mereka yang telah mengumpulkan begitu banyak mutiara dan menyimpannya menyambut panggilan itu dengan suka cita. Dengan gembira mereka membawa semua hasil kerja mereka selama di pulau itu. Mereka sama sekali tidak merasa sedih, kecuali karena tidak lagi bisa mengumpulkan permata dan intan yang lebih banyak lagi…

Sedangkan kelompok penumpang yang kedua, kesedihan mereka semakin bertambah sebab mereka tidak sungguh-sungguh mengumpulkan permata-permata berharga itu. Begitu banyak kelalaian mereka. Sementara bekal yang terbawa hanya sedikit. Semakin sedihlah mereka karena mereka akan meninggalkan rumah yang telah mereka bangun…Dan mereka tidak lagi punya waktu untuk mengumpulkan bekal lebih banyak lagi…

Yang paling celaka adalah kelompok penumpang yang ketiga. Musibah mereka jauh lebih besar. Kepada mereka dikatakan,"Kalian tidak akan dilepaskan hingga kalian membawa segala yang telah kalian keluarkan dari khazanah sang raja dari pundak kalian !". Mereka akhirnya berangkat tanpa membawa bekal apapun…Menempuh perjalanan yang menakutkan….

Perjalanan bahtera itupun akhirnya berakhir juga di kota tujuan paling akhir. Di tempat itulah sang raja yang diagungkan tinggal dengan segala kekuasaannya. Pada saat bahtera itu tiba di kota ini, segera diumumkan kepada seluruh penghuni kota : "Kini telah tiba suatu kaum yang dahulu pernah singgah di sebuah pulau tambang emas dan permata…". Para penduduk kota berduyun-duyun menyambut mereka. Sang raja yang diagungkan beserta para prajuritnya begitu pula. Dan saat sang raja melihat mereka, ia bertitah : "Perlihatkanlah barang bawaan kalian padaku !".

Maka dengan suka cita, para penumpang yang telah berhasil mengumpulkan permata di pulau itu menunjukkan bawaan mereka kepada sang raja. Raja senang. Ia memuji mereka seraya berkata : "Kalian adalah orang-orang khususku, ahli majelis dan kecintaanku. Kalian boleh mendapatkan apa saja yang kalian inginkan dari kemurahanku." Sang raja kemudian mengangkat mereka menjadi raja-raja seraya memberikan kepada mereka apa yang mereka inginkan. Bila mereka meminta,mereka akan diberi. Saat mereka memberi syafa'at, syafa'at mereka dikabulkan. Apa yang mereka inginkan semua ada di situ.
Kepada mereka disampaikan,"Ambillah apa yang kalian inginkan dan putuskanlah apa yang kalian kehendaki !". Merekapun segera mengambil istana-istana, rumah-rumah tinggi dan mewah, bidadari-bidadari, taman-taman dan wilayah kekuasaan. Mereka juga mengendarai berbagai kendaraan. Berjalan diiringi para budak dan pengawal yang setia mengawal mereka.
Mereka menjadi penguasa yang selalu mengunjungi, menemani dan memandang sang raja yang diagungkan. Bila mereka meminta sesuatu, raja akan segera memberinya. Bahkan sebelum mereka memintanya pun sang rajalah yang akan terlebih dahulu memberikan pada mereka.

Adapun kelompok penumpang kedua, saat mereka ditanya,"Dimanakah gerangan barang bawaan kalian ?", mereka menjawab : "Kami tidak mempunyai barang bawaan…"
"Celakalah kalian ! Bukankah kalian telah berada di tambang emas dan permata ? Bukankah kalian dan mereka yang telah menjadi kekasih sang raja yang diagungkan itu pernah berada dalam tempat yang sama ??"
"Iya, tentu saja. Namun kami lebih memilih untuk berleha-leha dan tidur di sana", jawab mereka.
"Kami disibukkan untuk membangun rumah dan tempat tinggal," jawab yang lain.
"Sementara kami disibukkan hanya untuk mengumpulkan bebatuan dan kerang," ujar yang lain lagi.
Maka dikatakanlah kepada mereka :
"Kalian sungguh celaka ! Tidakkah kalian mengetahui betapa singkatnya masa tinggal kalian di pulau itu ?? Dan betapa berharganya nilai permata yang ada di sana ? Bukankah kalian mengetahui bahwa pulau itu bukanlah tempat tinggal kalian yang sesungguhnya ?? Bukankah kalian telah diberikan peringatan dan nasehat oleh para pembawa nasehat ??!"
"Tentu, demi Allah ! Kami sungguh mengetahuinya, tapi kami pura-pura bodoh. Kami telah dibangunkan namun kami pura-pura tidur. Kami mendengarkan namun kami pura-pura tuli dan tidak mendengarkan," jawab mereka.

Mereka hanya bisa menggigit jari dengan penuh penyesalan. Menangisi kelalaian mereka dengan air mata yang mengalir. Terdiam menyesal dan kebingungan. Berdiri menunggu apakah ada di antara orang-orang yang telah menjadi raja itu akan memberi syafa'at untuk mereka dan menyampaikan masalah mereka kepada raja yang diagungkan !

* * *
Sedangkan kelompok yang ketiga, mereka lebih galau lagi. Mereka telah merusak wilayah kekuasaan raja di pulau itu. Mereka datang seraya memikul dosa-dosa di atas punggung mereka. Putus asa. Diam membisu. Penuh kebingungan dan kelimpungan. Kaki mereka tergelincir. Penyesalan meliputi hati mereka. Rasa sakit telah mereka rasakan. Mereka dipermalukan di hadapan ummat manusia.
Sang raja yang diagungkan murka kepada mereka. Raja pun mengusir dan menjauhkan mereka dari istananya. Mereka sungguh-sungguh yakin bahwa kini siksa dan adzab-lah yang menanti mereka.
"Jika mereka bersabar (menderita adzab) maka neraka-lah tempat diam mereka, dan jika mereka mengemukakan alas an-alasan, maka tidaklah mereka termasuk orang yang diterima alasannya." (QS 41 : 24)

* * *

Sahabatku…
Tidakkah engkau merasakan bahwa yang dikisahkan oleh Ibn Qudamah itu sesungguhnya adalah kita sendiri ? Bukankah penumpang bahtera itu adalah kita, dan bukan siapa-siapa ?. Tapi dimanakah permata-permata itu ? Atau mungkin kita sekarang ini sibuk membangun istana di pulau dunia ini. Bahkan mungkin kita telah mengoyak dan melanggar batas-batas kekuasaan Sang Raja di pulau ini ?

Masih ada waktu, Sahabat. Panggilan perjalanan itu belumlah dibunyikan. Kita hanya perlu menentukan tujuan hidup di 'pulau' dunia ini. Penentuan itulah yang akan mengubah paradigma kita tentang dunia. Apakah ia hanya tempat persinggahan, atau justru di sinilah tujuan akhir kita berlabuh.
Jadi, tentukanlah tujuan hidupmu.

Abul Miqdad al-Madany
Muhammad Ihsan Zainuddin