Langsung ke konten utama

Postingan

HANYA SATU NYAWA

Postingan terbaru

IKHLAS ITU PROSES

Untuk kesekian kalinya, saya membaca ungkapan yang diriwayatkan dari al-Imam al-Daraquthny rahimahuLlah, seorang ulama hadits besar yang salah satu karyanya, al-‘Ilal, menjadi rujukan penting dalam ilmu hadits. Ungkapan itu bagi saya sangat luar biasa. Terutama karena ia menggambarkan sebuah kondisi yang biasa kita alami. Beliau mengatakan:
“Dahulu, kami menuntut ilmu ini bukan karena Allah. Namun ternyata ilmu ini enggan kecuali jika ia dituntut karena Allah semata.”
Boleh jadi, kita tak pernah menyangka. Seorang imam besar seperti al-Daraquthny ternyata di awal perjalanannya menuntut ilmu agama mengakui bahwa ia pun didera oleh ketidakikhlasan. Setiap saat selalu ada bisikan jiwa bahwa engkau belajar agar kelak engkau disebut sebagai “al-Imam”, “al-Muhaddits”, “al-Faqih”, “al-‘Allamah”, dan sebutan-sebutan penghormatan lainnya.
Di saat-saat seperti itu, biasanya terjadilah sebuah tumbukan keras: antara bisikan ketidakikhlasan dengan tuntutan ilmu yang selama ini kita pelajari; bahwa ri…

KE AL-QUDS AKU AKAN KEMBALI!

KE AL-QUDS AKU AKAN KEMBALI!Pesan dari Jiwa untuk Para Mujahid yang Akan Berangkat ke Bumi Palestina Saudara-saudaraku, Para Mujahid! Jika hari ini engkau telah memancangkan tekad untuk berangkat ke Bumi al-Quds, maka…Mulai hari ini, tekunlah meluruskan Tauhidmu, memperbaiki keikhlasan niatmu, dan membersihkan tautan-tautan hidupmu pada selain Allah. Tidak ada lagi jimat, tidak ada lagi istighatsah, tabarruk kepada selain Allah, tidak ada lagi kesyirikan apa pun dalam hidupmu. Keyakinan seperti inilah yang akan menjadi sumber kekuatan paling dahsyatmu untuk kembali ke Bumi al-Quds…karena engkau bersandar kepada satu-satunya Dzat yang Mahakuat, yaitu Allah Azza wa Jalla. Mulai hari ini, sematkanlah segala kemahasempurnaan dan kemahatinggian kepada setiap nama dan sifat Allah Ta’ala, baik yang engkau temukan dalam al-Qur’an maupun sunnah Nabi-Nya…Jangan lagi engkau takwilkan atau selewengkan maknanya, karena mengingat seluruh keMaha…

DR. NAZAR RAYYAN; PENUNTUT ILMU DAN MUJAHID YANG SAYA KENAL

DR. NAZAR RAYYAN; PENUNTUT ILMU DAN MUJAHID YANG SAYA KENAL

Didiktekan langsung oleh Syekh DR. ‘Abdurrahman al-Barrak (Ulama besar Saudi Arabia)



Segala puji milik Allah, shalawat dan salam untuk Nabi kita Muhammad, beserta keluarga dan para sahabatnya. Amma ba’du:

Maka saya memohon kepada Allah agar mengampuni Abu Bilal (DR. Nazir Rayyan-penj), menempatkannya di kelapangan surga-Nya, dan memberikan balasan terbaik untuk ibundanya, anak-anaknya, serta seluruh keluarga, saudara dan sahabatnya yang masih hidup di medan jihad…

Saya telah mengenal DR. Nazar ketika ia masih menjadi mahasiswa di Fakultas Ushuluddin di Riyadh. Ia adalah salah satu mahasiswa terbaik dalam menuntut dan mencari ilmu, ditambah lagi dengan adab dan sejarah hidupnya yang baik. Beliau kemudian melanjutkan perjalanan ilmiahnya hingga mencapai gelar doktor dalam ilmu-ilmu syar’i.

Namun disamping perjalanan ilmiahnya itu, ia sangat berkeinginan untuk menjadi seorang prajurit dalam jihad melawan musuh-musuh Allah, kaum Yahud…

SAJAK KERINDUAN

Muhammad Ihsan Zainuddin

: jiwaku, karena ia tlah letih pada duniaTeringat pada Sang Nabi, hari iniBila engkau syahadah, semburat darahmu adalah kemuliaanTitik-titik hitammu akan terampuni seketikaBidadari bermata jeli tersenyum di pintu surgamenyambutmu dalam rindu sepenuh zamanPada Allah, syafaatmu akan menebarkan ampunanpada orang-orang terkasihmuDan di sana,Segala kepenatanmu kan usai seketika, tiada jejakJika kaki lemah ini menjejak kali pertama pada jannahtiada lagi sedih dan hidup yang lelahbenar-benar tiada, sungguh-sungguh usaidan aku merindukannya…Duh, dunia ini melelahkankuTuhan, anugrahkan kesabaran tak kunjung selesaipada jiwa yang letih iniizinkan ia untuk tetap sujud hingga usai masanyahanya padaMu, dalam samudra tanpa batas nikmatMudan kelak, jika titikku tiba di penghujungkaruniakan syahadah itu padaku. Duh, jangan hijabi aku untuk tidur panjang di pelatarannya.Jangan, Tuhan…Cipinang Muara, 24 Desember 2006

SAJAK CINTA PADA NABI

Sajak Cinta Untuk Sang NabiMuhammad Ihsan Zainuddin

Aku membuka lembar demi lembar sejarah Tak terhitung jumlah lembar ituTapi kisah tentang Tuan-lah yang paling semerbakAku letih menatap huruf-huruf tua sejarahTapi ia sirna seketika kutatap keagungan TuanTuan, engkau sungguh membuat kami rindu redamPesonamu menghunjam cinta tak terkiraKini, dan hingga nantiAku akan berdiri di siniBerbaris berjejal bersama kafilah para pecintamu“Kupinta menyertaimu di surga,” ucap kamiPersis ucap Sang Al-Aslamy suatu ketika di hadapmuTapi maafkan kami, TuanKami pecinta yang payahSeringkali kami lemah tuk buktikan cinta ituHanya hunjamannya sudah tak terkirakanKerinduannya adalah kobar nyala apiTerlalu panas hingga membakar jiwaBakarannya begitu nikmat, hingga kami terbuaiTuan, kelak jika kita berjumpaPintakan syafaat untuk pecinta yang letih iniAjak kami melihat Wajah Rabb yang utusmu dengan cinta.
Cipinang Muara, 27 Maret 2006
Sajak Cinta untuk Sang Nabi 2
Namamu adalah Muhammad. Sungguh manisSetiap huru…

TENTUKANLAH TUJUAN HIDUPMU !

Bacalah kenyataan yang menyedihkan ini. Sebenarnya ia adalah makhluq yang beruntung. Tidak semua makhluq ciptaan Allah seperti ia. Penciptaannya sempurna. Fisiknya dilengkapi dengan akal untuk berfikir. Ia juga dikaruniakan sebuah hati dan jiwa. Hidupnya dilengkapi dan disempurnakan dengan ditundukkannya makhluq lain untuk berkhidmat padanya. Yah, ia sebenarnya ditakdirkan menjadi makhluq yang paling terhormat. Dan tidak hanya itu, setelah Allah memberikannya fithrah yang lurus, Allah Ta'ala bahkan mendukungnya dengan kedatangan para Nabi dan Rasul disetiap zaman. Dan mereka tidak datang sendiri. Di genggaman mereka ada petunjuk Tuhan. Apalagi jika engkau berbicara tentang sayyid mereka, Muhammad Rasulullah saw. Duh, risalah yang dibawanya tidak tertandingi. Namun –sekali lagi, bacalah kenyataan yang menyedihkan ini-, makhluq yang satu ini masih saja terombang-ambing oleh dirinya sendiri. Ia seperti tak pernah mengerti benar mengapa ia hidup. Dan engkau pasti sudah paham siapa mak…